Langsung ke konten utama

kisah saat terluka...

Apa yang kurasa.
Bagai 2 sisi.
Apa yang kau mau?
Logam?
Aku memilih mata pedang.
Keduanya memiliki resiko tersendiri.
Tajam.
Menyayat, menikam, menusuk.
Berbahaya.
Melawan berbagai keharusan.

Deretan kisah tak terhingga seakan mengintegral di pikiranku.
Mencapai limitkah?
Belum.
Letih menurunkan air mata.
Harusnya ini berdimensi, berlogika, tapi...
Pergeseran keadaan mentransformasi semua.
Ya, perbedaan.
Mengeliminasi suara hati, substitusikannya dengan nafsu setan.
Di mana rasio otakku?
Hatiku?
Hilangkah ia?
Tercerminkankah itu dari permukaan mata sayu ini?

Apa yang kurasa.
Semakin menyiksa jiwa.
Hingga kini, saat ku mengadu padanya, aku tak merasa apa-apa!
Seakan tanpa hati!
Kembalilah, cerita lama.
Meski waktu takkan bisa diputar kembali, aku tahu.
Berharap hujan deras ini berhenti.
Dan memunculkan pelangi di jiwa hampa ini...

Komentar