Langsung ke konten utama

Sebuah Surat untuk Calon Suamiku


Kamu, ya, kamu.
Aku menyukaimu.
Karena parasmu, pribadimu, agamamu.
Semoga karena Allah juga.

Hai, kamu.
Aku belum berani mengatakannya langsung padamu.
Tahukah kamu, betapa sulit menahan rasa ini saat bersamamu?
Berusaha agar kau tidak mengetahui ini.

Kamu, aku tak ingin kau ternoda karenaku.
Karenanya, aku menjaga perasaan ini rapat dalam hati.
Biar saja aku menikmati suka dukanya.
Karena aku belum layak menjadi milikmu.

Kamu, akhir-akhir ini aku berharap pada Tuhan.
Berharap semoga pemilik tulang rusukku adalah kamu.
Mungkin salah caraku memintanya.
Tapi aku hanya ingin kita dapat bersama dalam ridha-Nya.

Mungkin, suatu saat nanti, aku akan mengatakan perasaanku.
Aku harus bersiap dahulu menjadi calon pendamping yang baik,
Sebelum nantinya aku (meminta untuk) menjadi pendampingmu.
Meski aku tak berani berharap semoga kau menyukaiku.

Kamu, orang yang (saat ini) kuharapkan menjadi suamiku,
Jika ternyata perasaanmu tidak sama dengan apa yang aku rasa,
Aku mungkin akan kecewa, tapi aku (berusaha untuk) tidak membencimu.
Karena aku sahabatmu, yang akan dengan tulus mencintaimu…

UPT Perpustakaan
19 April 2012



NB: Ini ceritanya lagi galau tingkat dewa pas lagi belajar buat UTS haha :D
mohon dimaklumi ya, gue biasa nulis puisi atau prosa kalau lagi galau, tentang apapun :)

Komentar

outbound malang mengatakan…
kunjungan gan .,.
Menjaga kepercayaan orang lain lebih penting daripada membangunnya.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.
n.a.i.k.a_ mengatakan…
setuju banget :)
sippo~