Langsung ke konten utama

Health Status Nowadays

Assalamu'alaikum, readers.

Sudah beberapa hari aku tak enak badan. Awalnya karena kecapekan pasca trip ke luar kota, lalu tertular flu dari rekan kerja saat lembur. Ditambah malam itu aku kehujanan. Walhasil besoknya langsung flu dan sedikit radang.

Buatku, ini kaya early warning system. Aku harus menjaga agar asmaku tidak kambuh. FYI, kalau aku sudah flu+batuk+radang, kemungkinan besar asmaku akan kambuh selama kurang lebih seminggu setelahnya. Karenanya, minggu ini aku menjauhi apa-apa yang memicu kambuhnya asma. Untuk makanan, contohnya segala makanan bermicin (ini agak susah; makanan apa sih yang nggak bermicin?), cokelat (which is my favorite food), dan kerupuk(:(). Juga nggak boleh kecapekan, kedinginan, stres (susah sih kalau kita bekerja di bawah tekanan #eh), merasakan emosi berlebih (ini serius, bahkan tertawa berlebih bisa memicu asma haha), atau menghirup asap dan debu. Banyak, yah? Nggak juga sih, udah biasa haha, meskipun emang nggak enak.

Tapi, yah, pada akhirnya, meskipun setelah beberapa hari pulang kerja lebih cepat dari biasanya, minum obat, dan langsung istirahat, napasku malam ini terasa berat. Kebayang, nggak, sih, kamu mau napas, tapi ngambil napasnya susah banget.

Apa rasanya punya asma selama sekian tahun belakangan ini? Yah, dijalani aja. Aku harus terima kalau aku terlahir dengan "bakat istimewa" seperti ini. It means aku harus menerima untuk "berteman" dengan asma selama sisa hidupku. Karena sejauh yang aku tahu, untuk penderita asma karena keturunan, asmanya nggak bisa sembuh. It's in my genes, anyway. Tapi bisa aja nggak kambuh dalam jangka waktu yang lama, kalau aku mematuhi pantangan dan melatih kemampuan bernapasku. Dan selama nggak kambuh, aku tetap bisa beraktivitas layaknya orang biasa. Mungkin dengan beberapa batasan, ya. Makanya, dijalani aja, nggak usah dirasa-rasa.

Tapi, aku mengakui bahwa aku pernah mengalami masa-masa denial. Aku pernah mengalami fase di mana aku bertanya-tanya sama Tuhan, kenapa harus aku yang "dikasih", kenapa nggak orang lain aja. Saat aku masih rutin minum obat tiap malam (yes, tiap malam, kalau skip semalem aja, pasti kambuh besoknya), aku pernah menangis agar aku nggak harus minum obat lagi. Aku terbayang seberat apa kerja ginjal dan hatiku untuk menyaring semua obat-obatan itu (well, aku sudah minum obat dosis tinggi sejak balita). Lalu, ayahku mengatakan hal yang terus kuingat sampai sekarang, yang intinya adalah aku nggak perlu memikirkan hati dan ginjalku sekarang. Yang penting adalah aku harus berjuang untuk tetap hidup, bagaimanapun kondisinya. Sehingga aku belajar untuk menerima kenyataan.

Yap, penerimaan adalah koentji. Catet.

After that, I'm just getting used to my disease. Sering orang di sekitarku nggak sadar kalau aku sedang sakit (for good and for bad). Kata mereka, aku nggak keliatan kaya orang sakit, haha. Menurutku, nggak perlu semua orang tahu apa yang terjadi dengan aku, cukup orang dekat saja yang tahu, untuk jaga-jaga.
*da tapi aku cerita beginian di blog yah haha

Mungkin ada hal yang harus diketahui oleh readers semua. Sering banget pas aku kambuh, orang di sekitarku tuh udah tampang pengen bantu, tapi nggak tahu harus ngapain. In case kalian ketemu temen yang sedang kambuh asmanya, first thing to do adalah tanya inhalernya di mana. Usually, pengidap asma punya inhaler, dan kalau rajin sih dibawa ke mana-mana. Once inhaler udah dapet, kamu bisa bantuin dia untuk pakai itu. Kalau dia nggak bawa, coba buat dia bersandar tapi posisi kepalanya lebih tinggi dari paru-paru. Karena berdasarkan pengalamanku, rasanya lebih sulit untuk bernapas saat posisi tidur dibanding duduk. Bantu dia untuk melepaskan semua hal yang mengganggu napasnya, misalkan tas, kancing kemeja atas, atau sematan kerudung di leher. Tenangkan dia. Bimbing dia untuk bernapas perlahan. Seandainya kamu merasa dia sangat kesulitan untuk bernapas, seperti napasnya berbunyi kencang atau malah ujung tangan, kaki, dan bibirnya membiru, please do call ambulance. Karena asma butuh penanganan yang cepat. And one thing you should remember is, please, jangan (keliatan) panik. Kalau kamu (keliatan) panik, bisa jadi orang yang kamu bantu itu ikut panik dan napasnya jadi cepat lagi.
*CMIIW

Kenapa aku nggak menyarankan pemberian (tabung) oksigen? Satu, itu bukan barang umum yang ada di mana-mana. Dua, menurutku, oxygen may help someone with asthma to breath, but not solving the problem. Penyempitan saluran pernapasannya nggak teratasi dengan pemberian oksigen, soalnya. Tapi kalau misalkan mungkin diberikan, boleh saja, sih. Itu membantu, kok.
*please CMIIW on this part

Hope this helps and gives you another perspective of life :)

Salaam.

Komentar